|
MENYUSURI PANTAI PIRU, KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT
Irwanto, 2009
Menuju kawasan pantai piru dari kota piru terlebih dahulu melewati pemukiman masyarakat, tanahnya berlumpur dan didapati kebun masyarakat, sesekali terlihat pohon sagu. Di bawah pohon-pohon kelapa terdapat beberapa ekor sapi dengan “hati riang gembira” sedang menikmati sarapan paginya yaitu rumput hijau yang segar..
Setelah melewati kebun penduduk, dapat dilihat kumpulan pohon sagu yang merupakan daerah hutan rawa ditemani beberapa jenis pohon yang biasa tumbuh di habitat rawa seperti giawas hutan, palaka dll. Kurang dari 50 meter lagi akan memasuki daerah pantai. |

|
Perjalanan ini didampingi oleh dua orang sahabat yang setia mengikuti gerak langkah kaki untuk melihat-lihat pantai Piru. "Theo" itulah namanya, seorang teman yang merupakan kediaman asli di Piru dan seorang lagi bernama "Lutfi" teman perjalanan dari Ambon.
Setibanya di pantai ternyata air laut sedang pasang, berarti perlu tenaga ekstra untuk menyusuri pantai ini, apalagi kalo melewati daerah mangrove. Di lokasi ini terlihat jenis-jenis vegetasi mangrove bercampur dengan vegetasi hutan pantai.
Zonasi vegetasi disini tidak teratur, kalo teratur pasti dapat dipisahkan antara zonasi hutan mangrove dan zonasi hutan pantai. Karena tanahnya berlumpur di daerah ini maka terdapat juga jenis-jenis Mangrove. Sonneratia sp tumbuh pada daerah terdepan lebih dominan dari jenis mangrove yang lain.
Perahu di bawah pohon Terminalia catappa
Perjalanan menyusuri pesisir pantai dilanjutkan menuju arah Utara. Sambil menoleh ke belakang, melewati perahu-perahu nelayan sedang parkir di pesisir pantai di bawah pohon Ketapang (Terminalia catappa) mungkin hari ini tidak melaut untuk mencari ikan, tetapi sedang ke ladang bercocok tanam umbi-umbian untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat, selain beras dan juga sagu yang dulunya menjadi makanan pokok.
Sekarang dominasi sagu sudah dikalahkan dengan beras, sagu hanya menjadi makanan selingan saja. Di Piru semua rumah makan menyediakan nasi sebagai sumber karbohidratnya, demikian pula di rumah-rumah masyarakat, mungkin hanya beberapa rumah tangga saja yang menyediakan sagu untuk kebutuhan karbohidrat yang dibuat “papeda”.
Tidak jauh dari perahu-perahu terdapat pohon yang besar yang bentuk batangnya tidak selindris dan banyak epiphyt serta liana yang menggantung. Di bawah pohon tersebut, ipomea pre-caspreae menutup tanah. Pohon ini mempunyai bunga yang cukup indah ketika berbunga. Di sini disebut “pohon Galala” sedangkan umumnya dikenal dengan nama "Dadap Ayam", kalo nama ilmiahnya Erythrina variegata L termasuk dalam famili Papilionaceae.
Khasiat Daun Erythrina variegata sebagai obat nyeri waktu haid, Untuk obat nyeri waktu haid dipakai ± 15 gram daun segar Erythrina variegata, dicuci dan ditumbuk sampai lumat. Dipakai sebagai param pada perut yang terasa sakit kemudian dibalut. Kandungan kimia Daun dan kulit batang Erythrina variegata mengandung saponin, llavonoida dan polifenol, disamping itu kulit batangnya juga mengandung alkaloida.
Lutfi di bawah pohon Erythrina variegata
Perjalanan dilanjutkan terus walaupun dihalangi oleh tumbuhan semak dan herba pantai yang sesekali menggaet kaki. Sampah juga terlihat disana-sini yang mengotori pantai hanyut terbawa oleh ombak laut dan hasil buangan masyarakat ke laut. Diantara kotoran-kotoran terdapat buah-buah bintangur yang hanyut oleh air laut. Bintangur (Calophyllum inophyllum) tidak asing lagi di Indonesia karena sudah mulai dikembangkan untuk biofuel.
Biji Bintangur (Calophyllum inophyllum)
Setelah cukup lelah berjalan selama satu jam menyusuri pantai, akhirnya ............ ketemu juga “Pohon Kayu Besi Pantai”. Sebenarnya perjalanan ini untuk mencari Pohon Kayu Besi Pantai yang nama ilmiahnya Pongamia pinnata, karena pohon ini di Negara India sudah dijadikan jenis yang bernilai komersil untuk dijadikan Biofuel. Selain itu juga daunnya dijadikan makanan ternak.
Pohon Pongamia pinnata
Memang di daerah Piru ini penyebaran pongamia pinnata sangat terbatas bahkan hampir tidak ditemukan. Dominasi jenis di pantai adalah Mangrove dari jenis Sonneratia sp. Tanah yang berlumpur karena daerahnya rendah dan datar menjadikan tempat ini cocok untuk habitat mangrove.
Sonneratia sp
Jenis-jenis mangrove zone distal yang juga banyak terdapat disini adalah Xylocarpus granatum, buah yang bisa dipakai untuk mainan Puzzle. Buah Xylocarpus granatum nama lokalnya disebut buah “Kira-Kira”, bentuk biji yang duduk tidak beraturan di dalam buah sehingga bisa digunakan untuk menguji ketangkasan membentuk formasinya semula.

Buah Xylocarpus granatum

Biji Xylocarpus granatum

Biji Xylocarpus granatum - Puzzle Tradisional Maluku
Selain jenis pohon mangrove yang ditemui, terdapat juga tumbuhan bawah yang sering muncul di daerah hutan mangrove yang cukup mendapat cahaya matahari, seperti Acrostichum sp dan Acanthus sp. Acanthus sp merupakan jenis yang sering dipakai sebagai pelengkap hiasan lilin pada saat natal.
Acanthus sp
Setelah mengambil gambar acanthus sp sebagai koleksi foto-foto tumbuhan mangrove dan melangkah lagi sejauh 20 meter, sampailah di Pelabuhan Piru yang sedang dalam tahap pembangunan.
Pelabuhan Piru
Istirahat dulu ah ....................
|