kesehatan irwantoshut.com
 

 




PENUAAN DINI

Tidak tahukah Anda betapa pentingnya kesehatan kulit? Kulit merupakan bagian dari organ eksternal tubuh yang sangat penting bagi manusia. Akan tetapi keberadaannya kerap kali tidak menjadi perhatian bagi kita. Padahal kulit merupakan lapisan paling luar tubuh yang melindungi organ-organ tubuh lainnya yang ada didalamnya dari segala macam gangguan alam, baik itu virus ataupun bakteri.
Kesadaran manusia untuk menjaga kebersihan dan kesehatan khususnya di Indonesia sangatlah minim sekali. Menurut sebagian orang, dengan mandi setiap hari saja sudah cukup dalam menjaga kebersihan dan kesehatan kulit, akan tetapi hal tersebut sangatlah tidak cukup, apalagi bagi kita yang tinggal dikota besar seperti Jakarta ini,yang memiliki tingkat mobilisasi yang sangat tinggi serta didukung keadaan lingkungan yang saat-saat ini sangat tidak menentu.

old woman

Dari sebab itu, cobalah Anda memulai untuk menyadari betapa pentingnya kulit dalam hidup Anda.

Salah satu dampak dari kurangnya menjaga kebersihan dan kesehatan kulit adalah Penuaan Dini. Sebenarnya, apakah hal ini menjadi pusat perhatian bagi kebanyakan orang? Sebelum kita sampai pada tahap itu, marilah kita simak terlebih dahulu apa sebenarnya arti dari penuaan dini.

Penuaan dini adalah proses dari penuaan kulit yang lebih cepat dari seharusnya. Banyak orang yang mulai melihat timbulnya kerutan kulit wajah pada usia yang relatif muda, bahkan pada usia di awal 20-an. Hal ini biasanya disebabkan oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal, seperti tingkat pengkonsumsian kadar alkohol yang berlebih, minuman yang mengandung kafein (kopi), stress yang berkepanjangan, kurangnya mengkonsumsi buah dan sayuran, kurangnya istirahat, aktifitas yang lebih dibawah sinar ultra violet ataupun terlalu lama beraktifitas didalam ruangan ber AC, mengkonsumsi makanan yang berkarbohidrat tinggi, perokok baik itu aktif maupun pasif, kurangnya olahraga, dan yang paling sering diabaikan oleh kita adalah kurangnya minum air putih yang memenuhi standar per hari sebanyak 8 gelas. Nah, jika hal-hal tersebut diatas belum Anda perhatikan, sekaranglah waktunya untuk meninjau kembali apakah anda menyayangi kulit Anda atau tidak.

Survei mengatakan bahwa 7 diantara 10 orang Indonesia akan mengalami penuaan dini. Jadi betapa harus mawas dirinya Anda ketika penuaan itu akan datang. Dari penyebab-penyebab yang disebutkan pada poin diatas, penyebab penuaan dini yang dialami oleh orang Indonesia rata-rata adalah stres, aktifitas yang lebih dibawah sianr matahari dan ruangan ber-AC, serta kurangnya mengkonsumsi air putih sebanyak 8 gelas per hari. Selain itu banyak lagi faktor-faktor lain yang menyebabkan penuaan dini seperti radiasi sinar x, polusi udara yang berasal dari mobil, pabrik, freon, asap rokok, bahan-bahan kimia eksogen dan endogen. Cara perawatan kulit yang salah, memakai produk perawatan kulit yang keliru, kelembaban udara yang sangat rendah, sampai suhu udara panas dan dingin yang akan menyebabkan penguapan air dari kulit sehingga menyebabkan kulit menjadi kering.

Pengaruh sinar matahari yang menahun atau kronis, menyebabkan kerusakan kulit akibat efek fotobiologis sinar UV yang menghasilkan radikal bebas akan menimbulkan kerusakan protein dan asam amino yang merupakan struktur utama kolagen dan elastin, kerusakan pembuluh darah kulit dan menimbulkan pigmentasi kulit.

Hal-hal tersebut diatas baru sebagian dari faktor penyebab dari penuaan dini, masih ada banyak lagi faktor-faktor yang menyebabkannya. Akan tetapi hal-hal tersebut diatas merupakan hal yang paling dekat dengan kita, apalagi yang berdomisili di ibu kota besar seperti di Jakarta. Maka dari itulah kita harus waspada dari kemungkinan-kemungkinan tersebut diatas. Caranya? Menjaga kesehatan kulit pada khususnya dan kesehatan tubuh pada umumnya dengan memakan makanan bergizi dan berolah raga secara teratur. Sayangilah diri Anda, sebab kalau bukan Anda, siapa lagi? Sumber : Male Emporium

Segera Buang Racun dari Tubuh Anda

Jane Schrivner dalam bukunya yang berjudul Cantik, Sehat, dan Bugar meminta kita memerhatikan tanda-tanda ketidakberesan organ tubuh. Ibarat lampu pengatur lalu lintas, tubuh yang tidak sehat itu biasanya memberikan sinyal-sinyal khusus. Sinyal itu, antara lain berupa kulit kusam tidak bersinar, selulit, berat badan sulit dikendalikan, rambut rontok, menipis, dan sulit ditata, serta lesu tak bersemangat. Bila sinyal itu diabaikan, kondisi tubuh bisa menjadi parah. Dalam kondisi tubuh seperti itu, Schrivner menyarankan menjalani program detoks selama 30 hari untuk membuang racun yang telah bertahun-tahun tertimbun di dalam tubuh.

Detoks adalah proses menghilangkan sifat racun dari toksin yang dibuang keluar tubuh. Menurut ahli detoks Andang W. Gunawan, detoks ini diperlukan agar tubuh terbebas dari toksin, sehingga tubuh menjadi sehat dan bugar. Pasalnya, gaya hidup manusia modern yang serba sibuk, lingkungan hidup kurang sehat dan kurang memerhatikan kesehatan tubuh membuat beban organ tubuh semakin berat.

Pola hidup yang kurang sehat itu membuat tugas liver menjadi berat. Liver adalah organ yang berfungsi menetralkan toksin yang masuk ke dalam tubuh dan membuangnya melalui ginjal berupa air seni dan feses. Mengeluarkan racun dari dalam tubuh itu penting untuk memelihara kesehatan organ tubuh. Setiap hari, tubuh secara alami membuang racunnya melalui media keringat dan buang air besar (BAB). Tapi, BAB setiap hari itu ternyata bukan ukuran bahwa detoksifikasi atau proses pembuangan zat-zat racun dari dalam tubuh sudah cukup.

Indikasi jumlah toksin atau racun dalam tubuh sedang meningkat itu, antara lain terlihat dari sering sakit kepala, sering sariawan, kulit sering bermasalah atau tubuh mudah lelah. Kalau usus besar yang bisa diibaratkan sebagai septic tank itu penuh dengan kotoran yang melebihi batas kemampuan sistem pembuangan, kata Andang, di sinilah perlu dimulai terapi atau program detoks. Jika tidak dilakukan detoks, racun akan menyebabkan toksemia [keracunan dalam darah].

Hampir semua penyakit regeneratif atau kerusakkan bertahap pada organ vital yang dapat menyebabkan kematian, erat hubungannya dengan toksemia. Pasalnya, sel tubuh itu memperoleh makanan dari darah, sedangkan darah memperolehnya dari usus. Setiap zat yang dikonsumsi oleh tubuh diserap melalui dinding-dinding usus dan kemudian didistribusikan oleh darah ke setiap sel-sel tubuh. Jika ada racun dalam saluran usus, racun akan terserap dan ikut beredar bersama darah ke seluruh tubuh.

Racun-racun itu memacu terjadinya berbagai kondisi penyakit degeneratif akut dan kronis, menyebabkan tubuh kekurangan energi dan penuaan dini. Detoksifikasi yang benar adalah solusi untuk memberi tubuh zat-zat gizi yang tepat dan memberi kesempatan pada tubuh untuk lebih leluasa melakukan pembuangan. Organ yang memegang peran kunci dalam proses detoksifikasi adalah liver dan saluran usus.

Tubuh bugar

Saat ini beragam metode detoks ditawarkan di pasaran, seperti merendam kaki, minum antioksidan, minum jus, minum susu organik hingga membersihkan usus besar. Intinya, metode itu ditujukan untuk membuat tubuh bugar.

Artis Catherine Wilson, misalnya, menjaga kebugaran tubuh dengan membiasakan diri mengonsumsi air kunyit buatan sang ibu sejak berusia 13 tahun. Namun kini, dia mengaku menambahkan suplemen Toxilite untuk menjaga kesehatan tubuhnya.

Metode detoks yang hanya memaksa tubuh mengeluarkan racun sangat berbahaya. Karena itu, memberi makanan yang benar dan mendukung kerja organ-organ tersebut sangat penting selama melakukan program detoks. Bagi pemula, Andang yang bersertifikat ahli detoks dari International School of Detoxification, Port Charlotte, Florida, Amerika Serikat ini menyarankan memulai program detoks dengan cara lebih banyak mengonsumsi buah dan sayuran segar terlebih dahulu.

Makanan yang dikonsumsi sebaiknya mengandung kadar air tinggi dan serat yang membantu melancarkan pembuangan dari usus, kaya vitamin, mineral dan antioksidan yang diperlukan oleh tubuh. Tahap selanjutnya, melakukan puasa dan menggunakan suplemen khusus detoks jika diperlukan. Suplemen sebaiknya yang mengandung bahan makanan organik.

www.irwantoshut.com
Tips Mengatasi Jerawat
Pemicu Kanker dari Makanan
Apakah anda mengalami Obesitas?
Apa Itu Kolesterol?
Penuaan Dini
Susu Kedelai Melawan Osteoporosis
Pewarna Buatan Sangat Berbahaya
Tips Langsing Sehat
Gaya Hidup Sehat
Minuman Isotonik Bukan Minuman Penambah Tenaga
Jenis-jenis Penyakit Jantung
Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi)
Serangan Jantung
Apakah gejala-gejala dari serangan jantung?
Memahami Stroke
Sepuluh Anggapan Salah Tentang Penyakit Jantung
Vitamin C dan E Cegah Penyakit Jantung
Langkah Preventif Menghindari Penyakit Jantung Koroner
Tidak Mudah Menyembuhkan Maag
Obat Kolesterol Dapat Cegah Kerusakan Saraf Akibat Diabetes
Kadar Makanan Pengaruhi Jenis Kelamin Bayi
Diet Rendah Lemak Turunkan Hormon Remaja Putri
Pria tua berpeluang menghasilkan anak cacat
Makanan pembentuk asam selama tiga hari sampai tujuh hari sebelum melakukan program detoks dikurangi. Selama menjalani puasa sangat dianjurkan menghilangkan dahulu makanan pembentuk asam tersebut. Proses pengeluaran racun awalnya terasa lamban. Bahkan, jika racun sudah terbentuk lama, proses pengeluarannya butuh waktu.

Proses detoksifikasi yang baik tidak instan, tapi hasilnya tahan lama. Menjalani detoks memang tidak mudah. Reaksi yang muncul selama proses detoks tidak sama setiap orang. Gejala yang biasanya muncul, antara lain warna urin lebih keruh dan baunya tajam. Terutama, bagi yang tubuhnya banyak mengonsumsi obat-obat non herbal.

Reaksi lain, sering buang angin dengan bau menusuk, pusing, mual, nyeri sendi, batuk, pilek, kotoran disertai lendir yang cukup pekat dan hasrat makanan tinggi. Kondisi tersebut sering mengejutkan. Di sinilah, pelaku detoks diuji kesabarannya. Bukankah menjadi sehat memang membutuhkan usaha dan pengorbanan?

Sumber: Bisnis Indonesia

Download tgl 21/01/2009 dari www.bali-organic.com

RAHASIA WANITA
woman

 


eat drink milk

Americans have excessively high blood cholesterol levels. The National Cholesterol Education Program (NCEP ATP III, 2001) states that a sound diet, weight loss and physical activity are the cornerstones of therapy for many individuals with cholesterol disorders. (Cholesterol-lowering drug therapy is reserved for those who have the very highest lipid levels or for those who have diabetes or coronary disease.) Atherosclerosis is a costly and fatal disease. Although there is no known cure, new evidence suggests that intensive lowering of serum total cholesterol, or more specifically, LDL cholesterol may retard the progression of coronary artery disease. The box, right, contains the NCEP cholesterol guidelines authored in 2001 by a panel of physicians and lipid experts. Reducing cholesterol through exercise, particularly LDL cholesterol, can be quite labor intensive. When individuals accumulate a sufficient weekly volume of exercise they can lower both total cholesterol and LDL-cholesterol and increase HDL-cholesterol (the “good” cholesterol). Exercise itself does not “burn off” cholesterol like it can with fat tissue. However, when exercise is of sufficient volume, for example, an adequate weekly frequency and duration, it can significantly reduce triglycerides and stimulate several metabolic enzyme systems in the muscles and liver to convert some of the cholesterol to a more favorable form, such as HDL-cholesterol. Reducing triglycerides decreases triglyceride-rich particles that are known to promote the growth of fatty deposits on artery walls. For many people with cholesterol disorders the first choice of therapy is dietary modification. In general, reducing high-glycemic carbohydrates reduces triglycerides, and reducing saturated and trans-fat foods decreases LDL-cholesterol. If LDL cholesterol (the “bad” cholesterol) is high enough, dietary therapy is often supplemented with cholesterol-lowering drug therapy. Exercise is of tremendous benefit when used in combination with either of these two forms of therapy. For those who maintain a frequent and sufficient level of exercise, it is possible that their physician will reduce their cholesterol-lowering medication and in some cases stop it altogether. Here are guidelines that outline a systematic approach for favorably altering cholesterol levels with regular exercise: • If you have a less-than-desirable cholesterol level, or your doctor has indicated you have a cholesterol disorder, have your physician establish your cardiovascular health status before engaging in a vigorous exercise program. Your physician may elect to perform additional blood tests (e.g., C-reactive protein) and/or a graded exercise test with an ECG (treadmill stress test) on you first. • Choose dynamic forms of exercise that tend to last at least 20 to 30 minutes and are performed at moderate intensities. Moderate exercise intensities would be an approximate effort of four to seven, on a scale of one to ten with ten being near maximal exercise. • In general, for exercise to significantly lower cholesterol levels, a relatively high volume of exercise is recommended (e.g. 1,500 kcal or more per week). In 12 to 16 weeks this volume of exercise can reduce total cholesterol by 10 to 20 percent. Fifteen hundred calories expended during exercise is equivalent to three to four hours per week for the average unfit person performing moderate-intensity walking, swimming, walk-jogging or cycling. This volume of weekly exercise is approximately the same volume of physical activity required to lose weight. As a result, fat weight loss tends to be associated with increases in HDL-cholesterol and reductions in total cholesterol and LDL-cholesterol levels, especially fat lost around the waist and abdomen. A sample program would be to start with walking 20 minutes per day, four days a week. Over six to eight weeks, graduate this program to one hour, six to seven days a week of walking over hilly (variable) terrain or walk-jogging over relatively flat ground. An alternative would be to walk 50 to 60 minutes three days a week and take an aerobics class three days a week and perhaps two to three sets of singles tennis on the seventh day. It is important to know that lower volumes of weekly exercise can still produce many other benefits, such as improved fitness and overall health, reduced blood pressure and increased psychological well-being. An ACE-certified Clinical Exercise Specialist can help you make the connection safely and effectively. A heart attack is a life-threatening event. Everyone should know the warning signs of a heart attack and how to get emergency help. Many people suffer permanent damage to their hearts or die because they do not get help immediately. Each year, more than a million persons in the United States have a heart attack, and about half (515,000) of them die. About one-half of those who die do so within 1 hour of the start of symptoms and before reaching the hospital. Both men and women have heart attacks. Emergency personnel can often stop arrhythmias with emergency cardiopulmonary resuscitation (CPR), defibrillation (electrical shock), and prompt advanced cardiac life support procedures. If care is sought soon enough, blood flow in the blocked artery can be restored in time to prevent permanent damage to the heart. Most people, however, do not seek medical care for 2 hours or more after symptoms begin. Many people wait 12 hours or longer. Symptoms and Diagnosis The warning signs and symptoms of a heart attack can include: Chest discomfort. Most heart attacks involve discomfort in the center of the chest that lasts for more than a few minutes or goes away and comes back. The discomfort can feel like uncomfortable pressure, squeezing, fullness, or pain. Heart attack pain can sometimes feel like indigestion or heartburn. Discomfort in other areas of the upper body. Pain, discomfort, or numbness can occur in one or both arms, the back, neck, jaw, or stomach. Shortness of breath. Difficulty in breathing often comes along with chest discomfort, but it may occur before chest discomfort. Other symptoms. Examples include breaking out in a cold sweat, having nausea and vomiting, or feeling light-headed or dizzy. Signs and symptoms vary from person to person. In fact, if you have a second heart attack, your symptoms may not be the same as for the first heart attack. Some people have no symptoms. This is called a "silent" heart attack. The symptoms of angina (chest pain) can be similar to the symptoms of a heart attack. If you have angina and notice a change or a worsening of your symptoms, talk with your doctor right away. Diagnosis of a heart attack may include the following tests: EKG (electrocardiogram). This test is used to measure the rate and regularity of your heartbeat. A 12-lead EKG is used in diagnosing a heart attack. Blood tests. When cells in the heart die, they release enzymes into the blood. These enzymes are called markers or biomarkers. Measuring the amount of these markers in the blood can show how much damage was done to your heart. These tests are often repeated at intervals to check for changes. The specific blood tests are: Troponin test. This test checks the troponin levels in the blood. This blood test is considered the most accurate to see if a heart attack has occurred and how much damage it did to the heart. CK or CK-MB test. These tests check for the amount of the different forms of creatine kinase in the blood. Myoglobin test. This test checks for the presence of myoglobin in the blood. Myoglobin is released when the heart or other muscle is injured. Nuclear heart scan. This test uses radioactive tracers (technetium or thallium) to outline heart chambers and major blood vessels leading to and from the heart. A nuclear heart scan shows any damage to your heart muscle. Cardiac catheterization. A thin, flexible tube (catheter) is passed through an artery in the groin (upper thigh) or arm to reach the coronary arteries. Your doctor can use the catheter to determine pressure and blood flow in the heart's chambers, collect blood samples from the heart, and examine the arteries of the heart by x ray. Coronary angiography. This test is usually performed along with cardiac catheterization. A dye that can be seen by using x ray is injected through the catheter into the coronary arteries. Your doctor can see the flow of blood through the heart and see where there are blockages. Causes Most heart attacks are caused by a blood clot that blocks one of the coronary arteries (the blood vessels that bring blood and oxygen to the heart muscle). When blood cannot reach part of your heart, that area starves for oxygen. If the blockage continues long enough, cells in the affected area die. Coronary artery disease (CAD) is the most common underlying cause of a heart attack. CAD is the hardening and narrowing of the coronary arteries by the buildup of plaque in the inside walls (atherosclerosis). Over time, plaque buildup in the coronary arteries can: Narrow the arteries so that less blood flows to the heart muscle Block completely the arteries and the flow of blood Cause blood clots to form and block the arteries A less common cause of heart attacks is a severe spasm (tightening) of the coronary artery that cuts off blood flow to the heart. These spasms can occur in persons with or without CAD. Artery spasm can sometimes be caused by: Taking certain drugs, such as cocaine Emotional stress Exposure to cold Cigarette smoking

HOME
GLOBAL WARMING
INDONESIA FOREST
INDONESIA BIODIVERSITY
CDM IN INDONESIA
MANGROVE FOREST
THE IMPORTANCE OF TREES
FOREST AND ECOLOGY
KIND OF CONSERVATION
KIND OF BIODIVERSITY
HOW PLANTS GROW
FOREST PICTURES
FACEBOOK
PENELITIAN
PAPER / ARTIKEL
KULIAH KEHUTANAN
PERJALANAN
DIARY
GALERI PHOTO
INFO SEPUTAR HUTAN
PROSIDING NFP
KESEHATAN TUBUH
KOTA AMBON
UNIVERSITAS PATTIMURA
TIPS MAHASISWA
BIODATA IRWANTO
PHOTO PRIBADI
FACEBOOK IRWANTO